RSS
Tampilkan postingan dengan label narasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label narasi. Tampilkan semua postingan

Hai, Kau...

Saat dulu kita sering berjumpa, percakapan ratusan menit sudah menjadi hal biasa. Hingar bingar tawa, lantang menggema menghiasi kisah kita yang entah dimulai dari mana.

Darimu aku sedikit banyak belajar, arti dari menerima. Kita bukanlah manusia tanpa celah. Selalu ada yang menjadi topik perdebatan kita. Aku dengan prinsipku, kamu dengan pola pikirmu. Tak jarang kita berada di kutub berbeda.

Hai, Kau...
Tuhan memang tak suka kita berandai-andai. Tapi jika boleh kupinta satu hal padaNya, aku ingin memelukmu kadangkala. Dimana kata-kata dan keberadaan adalah senjataku saat kita masih bersama. Jarak merubah segalanya. Aku yang hanya bisa memanggilmu sebatas tarian jemari, tak bisa lagi mendengar dengan leluasa isi hati.

Hai, Kau...
Aku menyadari, hidup itu dinamis. Kalau kamu ingin menangis, silahkan ambil jatah isak tangis. Karena aku tau, salah satu hal melegakan yang bisa dilakukan sendirian adalah menangis.

Cinta Sebatas Mata

Kamu tahu rasanya? Jatuh cinta sebatas mata? Jatuh cinta sebatas pandangan tanpa bisa berkata, aku cinta. Aku tak pernah sesuka ini. Setiap bertemu, lidah terasa keluh dan hanya bisa memandang wajahmu dari jauh. Yang bisa kulakukan setiap hari adalah dirundung pilu memikirkan bagaimana caranya mengatakan padamu.

Sampai pada akhirnya aku tiba di hari ini. Hari yang tak pernah aku bayangkan seumur hidupku, hari pernikahanmu. Hari yang membuatku berpikir seribu kali untuk memenuhi undanganmu. Entah sudah berapa lama aku membodohi diriku sendiri untuk semua yang terjadi. "Kalau memang suka, ya bilang aja. Tapi nggak kan? Aku nggak bisa berharap kalo kayak gini. Iya kalo dia memang suka, kalo nggak? Terlanjur nunggu ee... dia sama orang lain. Sedihnya dua kali lipat. Sudah harapan pupus, orang yang berniat baik juga disia-siakan." Begitu jawabanmu dari salah seorang temanmu kala bertanya tentangku.

Terserah. Jika itu pikiranmu tentangku setelah kutahu cerita itu dari temanmu. Aku suka dan itu sungguh-sungguh. Kalau saja kamu tahu, mencintai tak sesederhana itu bagiku yang seorang laki-laki ini. Bagaimana caraku membahagiakanmu jika kita hidup bersama kelak? Sedangkan aku hanya mampu mencukupi kehidupan diriku sendiri.

Detik ini aku berhadapan denganmu, memaksakan diri untuk tersenyum seraya menjabat tanganmu, "Semoga menua dengan orang yang tepat." Dan itu kalimat terakhirku untukmu.

Bahasa Diammu

Mengertikah kamu? Tentang apa yang tidak selalu terucap tapi selalu nampak, pada suaramu yang mengalun dalam keheningan jarak seperti gerak-gerik ini

Dua orang yang berdiri dengan jarak satu langkah, sibuk dengan layar handphonenya masing-masing, namun tak ada satupun yang beranjak dari tempatnya sampai pada akhirnya mereka menyerah dengan kekakuannya sendiri dan memutuskan untuk pergi.

Dua orang yang dari kejauhan bertemu muka, menatap dari jaraknya masing-masing namun matanya seolah berbicara.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVlj9J3xuVReXiiPIb8pxPZloWNHmYuqSfUzXLI86lALCRjipuvkPWeJ-HvZ-UaSBf6C90ZfDq5lgDp1KyMl6al2juD6-O5tuDKXopnXMj6eNZxLCNnmdg0PLM1a_u2yV70vUpG9eAD9-9/s1600/tangled.jpg

Seseorang yang bertemu dengan seorang lainnya hanya melihat tiga puluh detik pertama, ragu-ragu menyapa sepuluh detik berikutnya, dan akhirnya mengucap 'hai' pada dua detik setelahnya.
Seseorang yang pura-pura tidak tahu bahwa ia sedang dilihat oleh seorang yang lain tiga puluh detik pertama, pura-pura tidak tahu lagi ketika seseorang yang lain ragu-ragu menyapa sepuluh detik berikutnya, dan baru merespon saat seorang yang lain itu menyapanya dua detik setelahnya.

Dua orang yang tidak mau meninggalkan sebuah percakapan basa-basi yang sebenarnya dapat diakhiri dengan kata 'permisi...'.

Belajar Berdiri di atas Pijakanku Sendiri

Kalau mengeluh itu adalah hal terpuji, mungkin sebuah buku tulis akan penuh dengan coretan berpeluhku sendiri atau kalau mungkin itu kaset kosong dia akan menjelma menjadi kicauan tak berspasi full satu album side A side B ala suaraku. Dan lagi-lagi aku mengepost tentang postingan sedikit galau.

Semangatku rasanya sudah menguap entah ke mana. Bertikai dengan pikiran sendiri dan akhirnya pusing. Menerka-nerka apa yang akan terjadi esok jika aku begini dan apa akibatnya jika keinginanku yang begini tak sesuai harapan. Rasanya pengen bilang 'sudah, aku sampai sini saja!'. Tapi betapa pengecutnya aku jika aku mengatakan hal itu. Aku sadar sebenar-benarnya sadar bahwa hal yang harus aku lakukan cuma bersabar untuk bertahan dan tetap melangkah di jalan yang selama ini aku lalui.

Aku manusia yang kadang kala on fire tapi juga tersungkur. Aku nggak bisa berpura-pura tegar dan bilang tak terjadi apa-apa padahal batin dan pikiran sedang mempertahankan argumennya masing-masing. Mendebat satu dengan yang lain dan akhirnya badankulah yang tumbang. Hei, aku lelah! Capek entah penat atau apalah namanya!

Seharusnya (Bertahan saja)

Seharusnya tanganku sudah tak menengadah lagi. Terus menerus meminta tanpa bisa memberi sedikitpun. Tapi sepertinya Tuhan berkata lain.

Seharusnya aku sudah bisa berdampingan. Tak terpisah beratus-ratus kilometer dari tempatku sekarang berada. Andai aku bisa memeluk jarak.

Seharusnya aku sudah melangkah di atas pijakanku sendiri. Nyatanya berjalan tertatih menuju tempat terakhir. Akan seberapa kuat aku?

Aku terlalu banyak mengeluh! Berceloteh tentang ini itu dengan diriku sendiri. Merasa belum puas dengan apa yang ada dan berharap kepada yang seharusnya. Tapi lambat laun tergugu dengan pikiran sendiri. Hey! Aku tidak hidup dalam pikiran sendiri. Menyesalpun tak ada guna. Yang harus dilakukan adalah tetap bertahan bukan tertahan.

Mengeluh bukan jalan keluar. Mau mengeluh pada siapa? Pada orang yang biasanya menjadi tempat berkeluh kesah? Apa selamanya bakal mengeluh pada mereka? Hey, ingat! Mereka bahkan tak pernah sedikitpun mengeluhkanku. Mereka mati-matian bertahan demi aku! Merasa berat dengan bukan yang seharusnya? Coba pikir seribu kali. Mereka tak pernah keberatan sekalipun menerima tengadah tanganku. Berteman dengan jarak dan menuntun jalanku demi aku!

Tanganku memang masih menengadah. Seharusnya beri kabar gembira. Bukan segunung keluh yang tiada tara.

Aku memang tak bisa memeluk jarak. Seharusnya pahami bahwa jarak mengajarkan betapa pentingnya mereka dalam hidup.

Aku memang masih tertatih. Menapak sejengkal demi sejengkal jalan di depan. Seharusnya aku bisa sabar.

Hidup tak selalu berjalan sesuai dengan pikiran. Seharusnya aku bisa menerima.

Antara Sandal Jepit dan Hati

Sandal jepit merupakan suatu refleksi letak kenyamanan sejati untuk berjalan. Ia terlihat tak berkelas karena terkesan pasaran, tapi disitu esensinya. Ia tak begitu mahal tapi membuat nyaman daripada sandal bermerek sekelas high heels yang dapat bertahan pada kaki hanya dalam beberapa jam saja. Begitupun dengan hati. Jika ia sudah menentukan pilihan, ia akan bisa menerima segala kekurangan atas apa yang menjadi pilihannya walaupun itu terlihat buruk menurut kebanyakan. Karena sesempurna apapun logika melihat, jika hati tak terpaut padanya ia akan terabai begitu saja.

Mencoba menganalisis kalimat 'wanita lebih suka bad boy daripada good boy'. Jika bisa mengerti point coretan di atas mungkin penjelasan bisa terpapar jelas.

Ke mana Moral Harus dibeli?

Dunia ini sepertinya sedang mengalami krisis. Krisisnya bukan tentang uang, bukan tentang harta benda apalagi teknologi. Sepertinya lagi trend krisis moral. Mengaca dari orang jaman dulu yang jauh dari teknologi, jauh dari kekayaan, dan jauh dari intlejensi. Hidup yang serba keterbatasan tapi makmur adanya.

Aku orang jaman sekarang yang menyukai tradisi jaman dulu. Yang walaupun ingin bermain dengan teman hanya bermodal suara di depan rumahnya sambil berteriak 'main yuuk!'. Yang keseringan bermain menggunakan tanah dan alat dapur seadanya. Yang jika ada tamu mencari bapak di rumah sedangkan bapak tidak ada dan menjawab alakadarnya 'bapak tidak sedang di rumah' tanpa perlu memberi nomor telpon genggamnya karena memang tak punya. Yang jika ada acara televisi yang bagus, sering nonggo walaupun di rumah sudah ada televisi.

Turut Berbahagia

Hampir setengah dari umurku telah mengenalmu. Kita memang dekat baru tujuh tahun terakhir ini. Aku menganggapmu seperti saudara sendiri. Kita tak sepenuhnya bertemu untuk berpisah. Tak sepenuhnya. Masih ada tatap muka antara kamu dan aku walaupun itu hanya beberapa kali dalam setahun. Kita sudah berjalan di laju yang berbeda. Kamu di hidupmu dan aku di hidupku, tapi kita masih satu dunia menginjak bumiNya dan menghirup oksigenNya.

Sepertinya baru kemarin kita jalan bersama, mengunjungi suatu tempat dan bertemu dengan orang yang tak kita kenal dengan ringannya bertanya. Kalian kembar y? Kalian adek-kakak ya? Hahaha... Aku masih mengingat ada saat kita jenuh dengan pertanyaan itu dan sekenak hati kita mengiyakan apa yang mereka tanyakan. Dan sepertinya saat itu kita sedang dalam masa ababil.

Kamu tau, kamu adalah salah satu teman dengan pemikiran dewasa yang pernah aku kenal, mungkin karena umurmu yang berbeda beberapa bulan di atasku. Tapi bukan karena itu juga, kamu memang dewasa. Seorang periang, humble, dan cepat akrab dengan orang lain. Kamu adalah salah seorang pendengar terbaikku.

Mungkin kamu masih ingat, perjalanan pertemanan kita penuh dengan cerita di dalamnya. Aku masih ingat sebagian besar diantaranya. Hey, memori itu tak akan terganti. Aku memahami setiap jengkalnya.

Well.. aku sekarang sampai pada kenyataan bahwa kita bukan lagi bocah yang bisa bermain sesuka hati. Kamu menjalani apa yang menurutmu baik untuk hidupmu, aku melihatnya, dan aku turut bahagia. Kamu memang pantas menerimanya. Aku akan berdo'a untuk kebahagiaanmu kelak. Mungkin ini kata-kata klise tapi ini benar adanya, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Aku menunggu kabar baik lainnya. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu.
Peluk cium :*

Love Phobia

sangat berhati-hati dan phobia itu beda tipis

menjaga apa yang aku miliki, apa yang aku rasa, dan apa yang aku harapkan bukan perkara mudah. tak seperti berjalan kaki menuju tempat yang ku mau. itulah yang kulakukan dengan benda bernama hati.

aku pernah berjalan berdampingan dengan seseorang yang menurutku memang pantas berada di sampingku. tapi aku bukan yang Maha tau. aku pernah meminta dia yang bisa membuat tertawa, Tuhan memberikannya. tapi tawa tak selamanya indah, ia menyimpan tangis dan menghadiahkannya padaku. aku pernah meminta dia yang berlawanan denganku, Tuhan memberikannya. tapi tak selamanya berbeda bisa saling mengisi, ia menyimpan egonya sendiri-sendiri yang entah sering atau terkadang tampak dan berjalan pada ketampakannya masing-masing. aku mengakukanku dan dia mendiakan dia.

aku sudah tak berani meminta apa-apa lagi padaNya. tak meminta dia yang bisa membuat tertawa ataupun dia yang berlawanan. yang aku mengerti dari yang sudah, aku cuma meminta tanpa tau apa aku bisa berdampingan dengan dia yang kupinta. aku sudah tak begitu mendamba apa yang dipuja kebanyakan karena aku takut bertemu luka.

Belajar dari Perjalanan Kita



dari perjalanan kita aku belajar, tak ada yang kebetulan di dunia ini.
sejauh apapun jarak kita, jika memang sudah waktunya pasti ada saja cara agar kita bertemu dan...
sedekat apapun jarak kita, jika memang sudah suratan tak akan ada cerita kamu bertemu aku dan aku bertemu kamu

Mengenangmu (Malam ini)

sudah lama aku ingin berbincang, denganmu
melihatmu rasanya sudah tak pernah. bisa jadi wajahmu pun sekarang aku lupa. mungkin saat kita berjumpa, aku akan tiba.tiba menjadi orang gagu

terlintas kamu di pikiranku malam ini
entah kenapa
boleh ya aku mengenangmu sebentar, tiga puluh menit saja ku minta bayanganmu singgah
aku memang sedang mengenangmu malam ini, sebenarnya mulai kemarin tapi aku acuh dengan hatiku sendiri
kamu tau selintas pikiran yang kadang muncul di otakku?
aku berharap waktu memberi kita kesempatan untuk bertemu, saling sapa kemudian tersenyum dan setelah itu sudah

sebenarnya aku malu untuk berujar, aku kangen. ya, sepertinya malam ini aku kangen dengan bayanganmu. aku tak berani kangen dengan jasadmu, gengsiku terlalu besar untuk mengakuinya, cukup bayanganmu saja buatku.
setelah kutukanku hari itu, aku masih berdamai denganmu dan masih mengenangmu sesekali
aku pernah sangat membencimu tapi aku tidak pernah benarbenar membencimu. kamu tau? kamu adalah salah satu pembelajar hidup terbaikku. kamu dan kelakuanmu.
aku tidak akan membicarakan cerita yang sudah dimakan zaman, tapi kamu pernah menghentikanku di zamanmu itu.

apa kamu tau? terkadang aku pernah berandai.andai. pengandaian tentangmu yang berakhir dengan kata sudahlah. kamu bukan suatu hal yang perlu disesali tapi juga bukan suatu hal yang elok untuk dipuja.
tapi biarkan malam ini aku mengenangmu, aku janji tak akan mengusikmu. nikmati saja malammu, biarkan aku berdua dengan bayangmu.

For the Shadow

aku bisa berteman denganmu meski tak kenal. aku bisa ramah denganmu meski tak pernah bertatap. aku bisa mendengar ceritamu meski tak tahu siapa dan apa yang kamu ceritakan. aku bisa menganggapmu ada meski tak tampak. asalkan berawal dengan cara yang baik



semua hal ada aturannya. duniaku bukan sekedar gerbang terminal yang bisa dimasuki oleh siapa saja. ia punya detector untuk tau siapa yang berhak tinggal dan siapa yang tak berhak masuk.
mungkin kamu tau segalanya tentang duniaku yang terkadang aku sendiri tak tau. tapi janganlah jadi bayangan tanpa wujud yang selama ini kamu lakukan. andai kamu bisa mengerti apa yang aku maksud dari awal mungkin sekarang kita sudah bisa berteman baik.


this is a Man not a Boy

just copas from one quote

"cinta sejati seorang laki-laki terhadap wanitanya adalah, ketika dia berani melamarnya dan menikahinya"

BANGKIT dari Gagal

hidup manusia berada dalam dua kondisi:
1. Ia dalam keadaan bahagia
segala sesuatunya berjalan lancar, penuh dengan kemudahan, dan terjadi dengan indah
2. Ia dalam keadaan terpuruk
apa yang ia rencanakan tak berjalan sesuai harapan. apa yang ia yakini kandas ditengah jalan, dan segalanya terlihat penuh dengan hambatan

dan aku berada pada kondisi kedua.
dimana apa yang aku rencanakan tak berjalan sesuai dengan dugaan. sedih?? pasti!!
rasanya seperti sudah tak ada jalan lagi buatku. jangankan mencari jalan, melangkahpun rasanya sudah berat.

Hey!! ini manusiawi yaa..
aku ngak bisa berpura.pura tegar dan berlagak semuanya baik.baik saja. sampai kutemukan sebait kata dalam sebuah pesan terdahulu dalam telpon genggamku
semua orang pernah gagal, tapi nggak semua orang bisa bangkit dari kegagalannya. (orang di masa lalu, 2006)

teringat pada kondisi beberapa tahun lalu saat sms ini ku terima. belum selesai berkutat dengan pikiranku, orang terhebatku berkata
hidup itu perjuangan, kalo udah dalam kondisi kaya' gini ya dijalani aja. positif thinking ma jalan Allah, apa masalah kaya' gini mau kamu selesaiin hanya dengan sedih & nangis?? nggak bakal selesai!!

life must go on!
lakukan sesuatu untuk langkah selanjutnya, jadikan motivasi dan pelajaran kondisi kemaren. buat apa diratapi yang sudah.sudah. toh seperti yang biasa aku alami, sabar itu ada hikmahnya semua udah ditata sesuai dengan waktu dan porsinya, dan aku sendiri ngak tau apa yang bakal terjadi selanjutnya. karena Allah punya sesuatu buatku yang ngak bisa aku tebak seperti apa
SEMANGAT!!! \('o')/

catatan ke-165


sejenak melepas penat dan tiba.tiba teringat sesuatu. 
kubuka catatanku dan hendak kutulis apa yang ada di otakku. aku tertegun membaca catatanku terdahulu, catatan ke-165.

catatan berisi kisah sebuah benda dalam celotehan seseorang. catatan singkat tentang lampiran beberapa pesan yang telah lama tersimpan. bukan, lebih tepatnya telah lama kusimpan. catatan ini tertulis atas dasar pemikiran sendiri dan ironinya aku akan menulis hal yang sama!
ini bukan kebetulan juga bukan kesengajaan, catatan singkat ini telah tertancap kuat di otak. ia telah mendoktrin sepersekian memori dalam otak dan diteruskan ke alam bawah sadar.
catatan singkat berisi uraian pendek celotehan seseorang yang merangkum pendeskripsiannya pada sebuah benda yang bisa hilang dalam ingatan dan tiba.tiba menyeruak dalam pemikiran
catatan ini bukan sekedar catatan, ia adalah sepenggal cerita tertinggal yang masih diingat meski hanya terlintas dalam sekelebat angan



buKan tentang Cinta

memilih kata pertama untuk sebuah tulisan tidaklah semudah menemukan sebungkus roti diantara deretan jajanan lainnya. butuh pengantar tepat yang singkrun dengan isi di dalamnya, seperti sebuah lagu dengan video klip yang ditampilkannya.

demikian dengan hati, tak mudah menerima hati lain untuk sekedar singgah bahkan tinggal bersamanya. dia punya sistem lock and key. harus mempunyai bagian yang sesuai dengan bagian yang dibutuhkan.

tulisan ini bukan tentang cerita cinta atau sejenis unsur yang sama di dalamnya. ini hanya coretan ketika hati tak selesai menjadi pembicaraan dan tak tau bagaimana cara mengakhirinya. 
berbicara tentang hati seperti berbicara tentang ayam dan telur, siapa yang terlebih dulu ada? tak ada habisnya.
masalah hati bukanlah masalah teoritis yang bisa dicari literaturnya. yang dapat ditemukan dengan cepat setiap jawaban yang dibutuhkan.
masalah hati bukan sebuah pelajaran atau mata kuliah yang diajarkan di bangku pendidikan. dia adalah sebuah rangkaian peristiwa yang mengantarkan pada proses kehidupan. ia bisa menjadi manis, pahit, dan seketika hambar.
sekeping hati adalah peneliti hal.hal yang berhubungan dengan dirinya. ilmuwan yang bereksperimen dengan keadaanya. penanya yang aktif untuk setiap permasalahannya. pendengar yang baik untuk setiap solusinya.
dan pada akhirnya hati sendirilah yang mengetahui apa yang terbaik untuknya

dari Teman yang Terasa Jauh

Dear You,
kita pernah di tempat yang sama
kita pernah punya kegemaran yang sama
kita pernah berbagi cerita
kita pernah searah
kita pernah senasib
kita pernah seperjuangan untuk memerdekakan diri
kita pernah berselisih paham
kita pernah saling memperhatikan
kita pernah...
ya... kita memang pernah, karena itu dulu

Teman,
adakah yang salah dengan kita? atau mungkin denganku?

kita memang tak seperti dulu. situasi membuat jarak antara kita. aku dan kamu berada dalam bentang ratusan kilometer. aaa,,, itu hanya masalah teknis!
sepertinya aku yang salah! sudah hampir tak pernah menghubungimu walau hanya untuk berkata "hi."
kelihatannya aku yang egois, sibuk dengan urusanku sendiri yang membuatku secara tak sadar melupakanmu. dan kelihatannya aku yang bodoh, begitu saja melewatkan kesempatan bertemu denganmu.

Teman, taukah kamu?
ada rindu yang menggumpal dalam hatiku. aku benar.benar menyesal tak menjaga pertemanan kita. sekarang kita seperti orang asing, tak ada percakapan bahkan tegur sapa.

apa aku harus menyalahkan keadaan?
dia yang membuat kita sudah tak pernah bertatap muka seperti dulu kala.
atau harus ku menyalahkan waktu?
dia yang membuat aku terbuai dengan urusanku dan kamu sekarang berkelana dengan ceritamu sendiri
atau aku harus menyalahkan diriku sendiri?
yang sekarang tak berani memulai untuk menyapamu

ada rindu tak tertahankan di sini, dan itu terbawa ke alam mimpi
ada rindu tak tersampaikan di sini, dan itu untukmu hai Temanku

aku sudah tak tau lagi hal.hal apa yang akan aku bicarakan jika mulai menyapamu. dunia kita sudah berbeda, pandangan hidup kita sudah tak lagi sama, tapi aku rindu berbagi cerita denganmu

aku dan kamu telah punya dunia masing.masing. aku dan kamu sudah tak lagi dalam satu bab cerita.
tapi, tak adakah kamu juga merindukanku?
ada saat dimana aku menunggu pesanmu. berharap kamu mengingat sesuatu tentang aku. namun itu sungguh membuat air mataku jatuh saat apa yang aku harap tak berlaku

Teman, cerita tentang kita bukanlah sebuah sejarah yang usang dimakan waktu. harapku masih ada cerita tentang aku dan kamu dilain waktu
ijinkan aku kembali masuk ke dalam duniamu walau itu tak sesering dulu













-temanmu, yang pernah mengisi hari.harimu-

namamu di kontak HaPe ku

sederetan nama yang tersimpan dalam ponselku, salah satunya ada namamu.,
seseorang yang sangat aku kenal.,
sejujurnya bukan namamu yang tertertera dalam ponselku tapi yang kutulis adalah julukanku ke kamu walaupun kamu sendiri tak tau nama apa yang aku tulis dalam kontak HaPe ku
sengaja tak memberitaumu siapa namamu di telpon genggamku sebab yang ku tau pasti kamu bakal ngejitak aku
walaupun kadang aku lupa siapa nama aslimu tapi setidaknya aku masih ingat bagaimana wujudmu
namamu ku ubah sesuka hatiku
mulai dari yang bagus sampai terjelek sekalipun
terakhir yang tertera adalah julukanku beberapa bulan lalu,,
dan sekarang namamu di kontak HaPe ku hanya sebersit ingatan saja
karena ke.error.an pada sistem telpon genggamku yang membuat semua kontak di HaPe ku h i l a n g..
hahahaha.. :p


kita

aku dan kamu bukan lagi bocah yang mementingkan ego masing.masing dan memerdekakan pendapatnya sendiri.sendiri
kita bukan lagi anak umur 15 tahun yang memandang satu masalah dari sudut pandang kita saja
aku dan kamu bukan lagi Tom & Jerry yang slalu berkiprah di ranah permusuhan

yaa,, kita yang punya cerita
cerita tentang aku dan kamu, tentang hitam putih dunia kita

memang kita pernah berseteru
saat keinginanku dan kamu tak lagi sejalan, saat mimpi kita tak lagi sama, dan saat kamu tak ingin lagi merealisasikannya sedang aku masih memaksamu untuk terus melangkah
kita pernah menghilang dalam kediaman kita masing.masing
kamu mencari arahmu sendiri dan aku mencari jalanku
aku dan kamu bertemu mata di persimpangan
aku dan kamu tak lagi sama
kita berhias senyum dengan sedikit kata seolah melebur apa yang sudah ada
mungkin itu cara kita saat masalah sudah entah kemana

Sang Pendosa

tulisan Sang Pendosa pada Tuhannya
barisan kata ini dari seonggok daging yang punya ruh yang sedang merutuk dirinya sendiri, manusia dengan segala kepekatannya yang sedang tertunduk dan terpekur,,

lirih, dia berkata:
Allah, sesungguhnya aku malu meminta padaMu terus.menerus, 
aku yang kerdil dihadapanmu ini, yang sering melupakanmu dan masih bertingkah seenaknya terhadap ketetapanmu, tapi aku tak tau harus meminta pada siapa lagi selain Engkau
aku benar.benar sangat malu padaMu, 
aku mendekat padaMu seperti halnya air laut tapi Engkau selalu ada untukku bagai udara.,
aku masih dengan keawamanku mencoba mengenalMu tapi Engkau mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk untukku lebih dari diriku sendiri
aku sering dengan prasangkaku sendiri dan Engkau dengan diamMu melugaskan semua prasangkaku
aku yang sering melalaikanMu tapi Engkau tak bosan.bosannya menegurku
aku yang pernah tidak percaya dengan apa yang ada pada diriku sendiri tapi Engkau, dengan segala caraMu bisa membuat manusia ini bersyukur dengan apa yang ada dalam diriku dan hidupku
Allah, aku tak akan pernah bisa menghitung apa yang telah Engkau beri kepadaku
keluarga..
teman..
hidupku,,
maafkan aku karena masih belum bisa memberi apa.apa untukMu,
Allah, aku tidak mengetahui apa.apa tanpa ilmuMu, yang aku tau adalah...
...aku bukan apa.apa tanpaMu