Serial Bumi
Menghibahkan Kata-kata
Siang itu, di ruang tamu tempat kita bercengkrama, seperti biasa kamu bercerita. Tentang hidupmu yang dianggap sebagian orang ceria. Namun di hadapanku bercucuran air mata. Kamu menjadi bukti sebuah pepatah yang pernah aku dengar. Kadang orang yang paling keras tertawanya justru orang yang punya kesedihan mendalam. Seperti yang sudah-sudah, aku hanya mendengarkan ceritamu dan menepuk bahumu sesekali.
Saat itu adalah hitungan hari keterpisahan kita. Yang sudah tak duduk di bangku sekolah. Kamu memutuskan meneruskan langkahmu di luar kota. Dan memberiku sebuah buku bersampul coklat. Aku tak menyangka ternyata kamu mahir merangkai kata-kata. Kamu menunjukkan padaku cerita dibalik tiap judul goresan pena. Yang membuatku sadar bahwa kesedihanmu lebih dalam dari yang aku perkirakan.
Waktu berselang dan cerita-ceritamupun berkurang. Aku menyimpan bukumu di tempat yang rapi, kadang sesekali kubaca ulang. Sampailah pada satu kisah, aku jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang bersamaan. Aku tak tahu kemana harus bercerita. Kuambil laptop yang tergeletak di meja. Menuliskan semua yang aku rasa. Dan aku tiba-tiba mengingatmu. Memahami sesuatu yang dulu tak kumengerti. Patah hati, bisa menyulap orang menjadi pujangga.
Tutup Semua Bab Tentangmu!
Duduk, Diam, Temani aku Jika kamu Berkenan
apa kamu tau? kenapa aku suka malam dan gelap? di sana hening, tak ada percakapan siapapun. tak ada yang menyalahkan dan tak ada yang disalahkan. yang ada cuma aku sendiri dengan segala pikiranku. apa kamu ingin tau alasan yang lain? malam dan gelap adalah penggantimu saat aku benarbenar mengharapkan kehadiranmu yang kenyataannya mengharapkan kehadiranmu adalah secuil keajaiban dari ketidakmungkinan yang ada.
aku dan kamu memang tak seakrab dulu, tak sering bicara seperti dulu apalagi bertemu, sudah hampir tak pernah. aku yang menutup diri, memang. aku yang bicara sekedarnya, sengaja. aku yang tak seatraktif dulu. tapi kenyataannya kamu pandai bersikap. kamu yang masih bisa melihat secuil celah dari semua kekuranganku. yang masih mau menyimak cerita garingku. yang bisa memunculkan isak tangisku walaupun kamu tak pernah sadar dan tak pernah tau.
entah kenapa malam ini benarbenar membutuhkanmu. maaf untuk keegoisanku karena memanggilmu sesuka hatiku. aku harap kamu masih mau meluangkan waktu untukku, sejenak diantara kesibukanmu. duduk, diam, dan temani aku jika kamu berkenan.
satu raga satu ruh
H: hey, ngapain di sini?!E: gak ada. pengen aja duduk di siniH: kamu ngak nyusul mereka?E: hmm?? (tampang ngak ngerti)H: itu lho (nunjuk) liat yang laen, mereka pada jalan cepet kamu ko' malah duduk.duduk di sini?E: (senyum getir)H: kenapa?E: sebenernya pengen, tapi masih belum bisaH: kata sapa ga bisa? bisa ko', asal ada kemauanE: keadaan berkata laen, aku harus duduk dulu, mungkin ntar aku bakal lari. udah ah jangan bahas itu!H: eits.. sabar bos.. gak pakek emosiE: ...H: kamu kenapa c?E: aku pengen balikH: balik kemana?E: ke tempat asalkuH: hey! masa' gini aja udah nyerah?E: gak tau aku, butuh mereka yang ada di sana (menunduk)H: tampangmu ko' gitu?E: gak ada semangat aku, susah ngaplikasiin kata emak ma bapakku. sabar itu gak berbatas kan y? kalo kesabaranmu diuji, gimana kamu bertahan? positive thingking dianjurkan kan y? gimana caramu buat ngeyakinin kamu sendiri tentang kepositifan thingking itu?H: hmm.. (mikir)E: bingung kan? sama, aku juga.. makanya aku butuh mereka sekarang..H: lha kamu juga harus inget kata.kata emakmu sebelumnyaE: yang mana?H: wong urip iku mesti duwe masalah, ne' gak kepingin duwe masalah mending ngak usah urip!E: iya juga,, tapi kadang belum bisa adaptasi ma keadaanH: ya yang namanya masalah kan memang sesuatu yang ngak dipengen di kehidupan. udah lah, ngak usah dipikir,, dijalani aja. semua ada porsinya masing.masing udah dari ketentuan-Nya.E: (sedikit senyum) oh ya, satu lagiH: apa?E: akhir.akhir ini emosiku ngak stabil, udah stadium parah nurutkuH: itu wajar, manusiawi ko'. yang penting kamu bisa manage emosimuE: kaya' kamu bukan manusia aja. eh, emang bukan y., lupa aku heheH: (cuma senyum)...hening sejenak...E: kamu ngak capek apa ngikut aku terus? kalo keadaan kaya' gini kamu juga kan yang kena akibatnyaH: ya emang udah takdirku ma kamu, mau gimana lagi. sekacau.kacaunya kamu toh pada akhirnya kamu ma aku yang kudu berjuang. selemah.lemahnya kamu pada akhirnya mau ga mau kamu yang harus bisa nguatin kamu sendiri. kamu sendiri pernah bilang semua bakal ada hikmahnya kan? itu kamu pernah bilang ke aku, tinggal proses kamu ngejalanin aja. seberapa tahan kamu ma keadaan. jangan kalah lah ma keadaan, harapan itu pasti ada ko'. percaya deh..E: iya, aku disini masih terus berharap cuma yang aku perlu saat ini menyendiri dulu. setelah itu bakal ta' jalani apa yang ada. tenang ja..H: (senyum) sip.. eh, kamu sampek kapan mau duduk.duduk gini?E: bentar lagi, aku masih mau jadi pengamatH: perlu temen?E: ya harus,, :D
pada akhirnya aku masih di beLakangmu
kamu goreskan ia menjadi serangkaian kalimat yang mengisahkan kita
indah, awalnya
namun berakhir perih
pun kamu menemukan celah diantara kalimatmu sendiri kemudian pergi, tanpa permisi
aku di sini cuma berteman sepi dan masih membaca sederetan kata yang telah kamu buat
kamu tak pernah tau rasanya sendiri diantara kalimat.kalimat yang pernah kamu rangkai untukku, ingin sekali kuhapus pun aku tak tau bagaimana caranya
akhirnya kusimpan kalimatmu pada deretan terbawah ceritaku
masih tertata rapi, namun lama.kelamaan usang
aku masih berada dalam bayanganmu dan itu tak pernah kau rasa
bagaimana aku harus berjuang melihat bayangmu dalam kehidupan nyataku
bagaimana aku harus berusaha tertawa keras dalam jeritanku sendiri
bagaimana aku harus menyembunyikan rangkaian kalimat yang kamu buat agar tak terlihat
aku tak pernah memaksakan pikiranku sendiri untuk melupakanmu walaupun terkadang itu terlintas dalam benakku
mungkin terlihat naif, namun pada kenyataannya aku mencoba berdamai pada masa silamku dengan memaafkanmu
hahaha,, sesuatu yang tak pernah terpikirkan oleh diriku sendiri, memaafkanmu!!
ingatanku tentangmu sudah tak terlihat jelas
sampai akhirnya kamu datang kembali membawa serentetan kalimat, tapi bukan lagi tentang kita
kamu dan ceritamu sendiri
aku tak tau apa ini disebut hal bodoh atau apalah karena aku menyimak penggalan.penggalan kalimat yang kamu buat dengan seksama
dan kini kamupun menjadi narator dari kalimat.kalimatmu sendiri dengan intonasi seadanya
aku hanya menjadi pendengarmu
celotehan tentang kisahmu menujukkan betapa bahagianya kamu dengan hidupmu sekarang, namun diammu yang terkadang tiba.tiba menyeruak mengisyaratkan hidupmu tak sesempurna seperti kelihatannya
aku cuma bisa menatapmu dan sesekali menghela nafas
dan pada akhirnya aku masih di belakangmu
yang hanya menjadi pelengkap dari rangkaian kalimat.kalimatmu
behiNd the sCene
mungkin bukan aku dan kamu,
melainkan ceritaku tentang kamu
pengharapanku tentang kamu yang tak pernah berujung
mungkin aku menunggu,
dan
sudah tak terhitung kiranya berapa kali aku menyerah dan nyatanya aku masih menunggu
mungkin kebodohanku karena tak berisyarat bahwa aku menunggumu,
tapi memang sengaja aku lakukan untuk kebaikanku dan kamu
aku sudah tak dapat menghitung seberapa sering aku tertawa bahkan seberapa sering aku meneteskan air mata
aku sudah berada pada titik pasrah,
sebenar.benarnya pasrah...
...jika suatu saat nanti aku harus kehilangan dan menghilang dari peredaranmu
tak jarang aku berpikir kenapa orang itu kamu, bukan yang lain
sampai kutemukan sederet tulisan
cinta itu terkadang salah, karena dia bukan matematika yang bisa dilogikakamu tak perlu tau siapa kamu yang aku tunggu
cukup Sang Penciptaku yang tau bagaimana sebenar.benarnya hatiku
dRaft.ku
dan pada akhirnya semua terangkum dalam draftku..
draft yang tak berwujud, karena memang begitu adanya..
ia hanya tersimpan dalam setiap lekukan.lekukan otak di kepala
mungkin jika diibaratkan suara, ia hanya bisa tercekat sebatas tenggorokan, tak akan pernah terlontar, dan tak akan ada kata
titik beratnya terletak pada pilihanku, kenapa hanya sebatas draft?
jawabannya ada di sini...


