RSS

Bercak yang Tak Terlacak

Kutemukan kotak berdebu

Berisi deretan daftar lagu

Semuanya tentang sayatan pilu

Yang sudah tak terekam oleh otakku 


Anganku jauh terbang

Pada kejadian yang tak terbilang

Seperti menggali sebuah liang

Namun yang terpendam telah hilang 


Kamu tahu rasanya bertemu masa silam?

Tak semuanya akan menerus kelam

Tak semuanya harus tersimpan dendam

Kadang cukup mengucap salam

Karena pijakanku kini terukir indah oleh alam

Akhir Kisah

Ketika dunia yang dihuni berisi tawa
Sesekali air mata
Tak pernah dikisahkan pada kita
Kapan saat kita berpisah
Selamat jalan wahai saudara
Meskipun tak sedarah
Kebaikanmu terukir nyata

Buah Cerita

Wajah-wajah berkisah

Pada seorang fakir kosakata

Ia melantunkan rima yang tidak biasa

Endapan nada di dalam dada


Wajah itu sungguh percaya

Menitipkan buah cerita

Pada seseorang yang tak lama dikenalnya


Si fakir masih mencerna

Deretan aksara

Juga gumpalan tanya


Apa yang tergambar

Dalam seraut rupa yang dipunya

Sehingga kisah dipercaya punya bejana

Dalam dirinya

Patahan Garis

Rasa dan merasa

Sepertinya sama

Tapi berbeda rupa


Seperti meraba terlihat dan melihat

Sama-sama seperti utuh

Tapi nyatanya ada yang rapuh


Rasa dan merasa

Yang satu membuncah di hati

Yang satu perlu diwaspadai


Rasa adalah fitrah

Merasa adalah bilah yang punya dua mata

Jatuh Hingga Utuh

Daun gugur

Tak bersatu lagi dengan rantingnya

Ia membusuk

Tapi pada akhirnya ikut menyuburkan benih lainnya


Begitu pula dengan tawa

Ia bisa hilang

Tersedak sebongkah nestapa

Tapi pada akhirnya dia lahir menjadi hikmah yang tiada tara

Kata Lepas

Kata lepas

Dari lidah sang Tuan

Ia tak punya andil atas tembakan pelurunya


Kata lepas

Bak tempias

Menyeruak

Dan membekas


Kata lepas

Menyisakan dua rasa

Asa

Atau amarah


Ku harap

Kata lepas

Mengisi bejana-bejana yang tepat

Anger Management

Akhir-akhir ini lagi seneng baca buku tentang hal yang berbau psikologi. Karena memang merasa butuh. Kadang ada hal-hal yang membuat kita rungsing dan ternyata sumbernya dari perasaan.

Salah satu buku yang habis aku baca adalah buku Anger Management. Buku ini bukan hanya membahas tentang memanage rasa marah. Tapi juga membahas tentang hal-hal yang terkait di dalamnya. Serta cara memperbaikinya.



Di sana dikatakan bahwa manusia akan mengalami 8 rollercoaster kehidupan. Kehamilan, pengasuhan, pendidikan, pertemanan, pernikahan, pekerjaan, pensiunan, dan kematian. Delapan fase ini memang tidak selalu dilewati oleh setiap manusia karena fase yang pasti adalah kematian. 

Dalam menghadapi setiap fase, tentu akan ada jalanan yang tajam dan berliku sebagai suatu ujian. Dalam setiap fase itu, pasti akan ada emosi-emosi yang berkecamuk. Salah satunya adalah marah. Sebuah emosi yang tidak tersalurkan akan menjadi ransel emosi dalam jiwa kita.

Yang tidak disadari oleh kebanyakan orang adalah bahwa kita meyakini paradigma yang keliru tentang emosi. Seperti tabu laiki-laki menangis, mengalihkan vs mengalirkan, melupakan dan time will heal, toxic positivity, diam atau lawan, aib meminta bantuan tentang perawatan kesehatan mental, dan marah itu tabu. Apakah ini juga yang selama ini kalian pahami?

Di Buku ini, akan dibahas bagaimana cara menyelesaikan emosi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dan di buku ini juga membantu merelease emosi dengan menuliskan emosi yang kita rasakan pada halaman-halaman yang tertera. Buku interaktif lebih tepatnya.

Untuk kalian yang penasaran apa emosi itu dan cara mengatasinya, bisa dibeli pada penulisnya atau reseller yang bekerjasama. Karena setahuku, buku ini tidak dijual di toko buku.

Serial Bumi

Apa ada yang tahu novel serial Bumi?
Novel ini berkisah tetang tiga sahabat yang mempunyai kemampuan yang tidak biasa. Raib, Seli, dan Ali. Mereka adalah tiga remaja yang dipertemukan pada satu kelas di sebuah SMA. Perawakannya seperti remaja pada umumnya, tapi siapa sangka ada kemampuan tersembunyi yang disimpan Raib selama ini.

Seperti namanya, Raib mempunyai kekuatan bisa menghilang dengan hanya menelangkupkan tangan ke wajah. Karena hal inilah Raib, Seli, dan Ali memulai perjalanan mereka. tak tanggung-tanggung, perjalanan yang mereka tempuh adalah perjalanan antar klan.

Aku membaca serial Bumi ini beberapa tahun yang lalu. Dan sejujurnya, aku mengira hanya akan ada tiga serial. Bumi, Bulan, dan Bintang. tapi ternyataaaa...



Kisah ini akan berlanjut sampai Aldebaran dan masih ada spiin off lainnya. Bisa dilihat di instagramnya Bang Tere :D

Hai, Kau...

Saat dulu kita sering berjumpa, percakapan ratusan menit sudah menjadi hal biasa. Hingar bingar tawa, lantang menggema menghiasi kisah kita yang entah dimulai dari mana.

Darimu aku sedikit banyak belajar, arti dari menerima. Kita bukanlah manusia tanpa celah. Selalu ada yang menjadi topik perdebatan kita. Aku dengan prinsipku, kamu dengan pola pikirmu. Tak jarang kita berada di kutub berbeda.

Hai, Kau...
Tuhan memang tak suka kita berandai-andai. Tapi jika boleh kupinta satu hal padaNya, aku ingin memelukmu kadangkala. Dimana kata-kata dan keberadaan adalah senjataku saat kita masih bersama. Jarak merubah segalanya. Aku yang hanya bisa memanggilmu sebatas tarian jemari, tak bisa lagi mendengar dengan leluasa isi hati.

Hai, Kau...
Aku menyadari, hidup itu dinamis. Kalau kamu ingin menangis, silahkan ambil jatah isak tangis. Karena aku tau, salah satu hal melegakan yang bisa dilakukan sendirian adalah menangis.

Rumah Dengar

Aku ingin membangun sebuah rumah untukmu. Tak terlalu besar, tapi kuharap kamu nyaman singgah di dalamnya. Tak terlalu mewah, tapi kuharap rumah ini yang pertama kamu ingat ketika kamu merasa lelah.

Aku ingin menyediakanmu sebuah tempat, dimana kamu bebas bercerita apa saja. Apa saja. Termasuk khayalan tak masuk akalmu atau beban yang kamu pikir tak ada orang yang tau rasanya jadi sepertimu.

Kamu tak perlu takut bercerita ini itu karena aku hanya akan menjawab jika kamu tanya saja. Kamu tak perlu takut aku akan berpikir macam-macam, karena aku sudah mengosongkan segala prasangka dari otakku.

Jika kebanyakan orang ingin menceritakan dirinya, aku siap jadi pendengarnya. Berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, selama kamu mau.

Aku tau, tiada lebih berharga ketika sebuah cerita benar-benar didengar, bukan dinilai dan dikomentari. Aku tau, perasaan lega ketika semua kosakata yang menghimpit dada perlahan-lahan dikeluarkan. Aku tau, perasaan kecewa ketika sebuah cerita terabaikan karena segenggam ponsel.

Cinta Sebatas Mata

Kamu tahu rasanya? Jatuh cinta sebatas mata? Jatuh cinta sebatas pandangan tanpa bisa berkata, aku cinta. Aku tak pernah sesuka ini. Setiap bertemu, lidah terasa keluh dan hanya bisa memandang wajahmu dari jauh. Yang bisa kulakukan setiap hari adalah dirundung pilu memikirkan bagaimana caranya mengatakan padamu.

Sampai pada akhirnya aku tiba di hari ini. Hari yang tak pernah aku bayangkan seumur hidupku, hari pernikahanmu. Hari yang membuatku berpikir seribu kali untuk memenuhi undanganmu. Entah sudah berapa lama aku membodohi diriku sendiri untuk semua yang terjadi. "Kalau memang suka, ya bilang aja. Tapi nggak kan? Aku nggak bisa berharap kalo kayak gini. Iya kalo dia memang suka, kalo nggak? Terlanjur nunggu ee... dia sama orang lain. Sedihnya dua kali lipat. Sudah harapan pupus, orang yang berniat baik juga disia-siakan." Begitu jawabanmu dari salah seorang temanmu kala bertanya tentangku.

Terserah. Jika itu pikiranmu tentangku setelah kutahu cerita itu dari temanmu. Aku suka dan itu sungguh-sungguh. Kalau saja kamu tahu, mencintai tak sesederhana itu bagiku yang seorang laki-laki ini. Bagaimana caraku membahagiakanmu jika kita hidup bersama kelak? Sedangkan aku hanya mampu mencukupi kehidupan diriku sendiri.

Detik ini aku berhadapan denganmu, memaksakan diri untuk tersenyum seraya menjabat tanganmu, "Semoga menua dengan orang yang tepat." Dan itu kalimat terakhirku untukmu.

Bermain-main dengan Kebahagiaan

Bertambah umur bukanlah pilihan karena kita tak bisa berkompromi dengan waktu. Namun gaya hidup menjadi cerita lain ketika umur yang bertambah dibarengi dengan keinginan yang tidak biasa. Apalagi menghalalkan segala cara.

Seperti seseorang yang duduk tertunduk di hadapanku. Demi gaya hidup yang diinginkannya, dia rela merampas kebahagiaan banyak orang yang sudah lama merindukan tanah suci. Dan tugasku pagi ini adalah melemparkan beberapa pertanyaan untuknya. "Mulai kapan Anda melakukan hal ini?" Pertanyaan kesekian.
Dia hanya menunduk diam. Belum satupun pertanyaanku yang dijawabnya.
Aku menghela nafas, mencoba pertanyaan berikutnya.
"Siapa saja yang ikut terlibat dengan kasus ini?"
Masih dengan sikap yang sama, dia hanya diam.

Aku mencondongkan badanku kearahnya. "Oke, mungkin anda beraksi secara diam-diam. Diam-diam merampas hak orang lain dan memilih diam untuk sesi ini. Anda kami adili dengan cara yang masih baik. Kalau Anda seperti ini terus, bagaimana jika saya tawarkan kepada Anda agar bisa diadili langsung oleh Tuhan? Bayangkan peluru ini secara diam-diam menghujam jantung Anda." Aku tersenyum sinis menatap lurus padanya.

Seketika kepalanya terangkat, melihat gerakan tanganku yang mengangkat pistol tepat di depan pengelihatannya. Air mukanya mendadak pucat pasi, mulutnya seperti ingin berkata namun tak bisa. Keringatnya mulai muncul berwujud titik kecil di dahinya.

Hidup seperti ini kadang membuatku terbawa suasana.

Hujan

Hujan itu sarang kenangan. Pada genangan-genangannya, terselip air mata. Lantas, apakah kesedihan bisa luruh hanya dengan turunnya hujan?

Aku menghela napas panjang. Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan yang muncul di otakku karena aku sendiri enggan bertanya pada orang lain tentang hal itu. Aku hanya memandangi hujan di teras rumahku. Berusaha membuang semua kenangan yang mengendap di otak.

Aku tak sendirian, ada kamu yang kupaksa datang ke rumah menjadi tempat sampah untuk semua kegalauanku tentangnya. Anggap saja aku tak sendirian, walaupun kesadaranmu sudah berpindah pada layar lima inch itu, setidaknya ragamu masih menginjak bumi. Kita diam dalam dunia masing-masing.

Aku menepuk pundakmu sedikit keras, berharap kesadaranmu menyatu dengan ragamu kemudian mendengarkan ucapanku.
"Hmm.." hanya sesingkat itu responmu tanpa beralih pada layar kecil itu.
"Aku ingin meluruhkan kesedihanku." Kataku setelahnya.
"Caranya?" Pandanganmu beralih ke mataku.
"Berdiri di bawah hujan. Meluruhkan kesedihan, memeluk kenangan, dan membiarkannya mengalir menjadi genangan."
"Terserah." Pandanganmu beralih kembali pada ponselmu.

Aku tak mengindahkan reaksimu dan berjalan pada halaman rumah. Menyerahkan semua beban pikiran, kenangan, kesedihan pada hujan sore itu.

Tak lama setelahnya, aku kembali ke teras dan tak melihatmu duduk di bangku. Hanya sesuatu yang tertinggal pada tempat dudukmu, payung. Ada sebuah catatan yang terselip di sana. Dan coretan tangan milikmu yang entah ke mana.
"Ada yang lebih penting daripada sekedar meluruhkan kesedihan. Menyelamatkan harapan yang masih tersimpan di hatimu." Tulisan manusia logis yang menyebalkan tapi selalu ada.

Menghibahkan Kata-kata

Siang itu, di ruang tamu tempat kita bercengkrama, seperti biasa kamu bercerita. Tentang hidupmu yang dianggap sebagian orang ceria. Namun di hadapanku bercucuran air mata. Kamu menjadi bukti sebuah pepatah yang pernah aku dengar. Kadang orang yang paling keras tertawanya justru orang yang punya kesedihan mendalam. Seperti yang sudah-sudah, aku hanya mendengarkan ceritamu dan menepuk bahumu sesekali.

Saat itu adalah hitungan hari keterpisahan kita. Yang sudah tak duduk di bangku sekolah. Kamu memutuskan meneruskan langkahmu di luar kota. Dan memberiku sebuah buku bersampul coklat. Aku tak menyangka ternyata kamu mahir merangkai kata-kata. Kamu menunjukkan padaku cerita dibalik tiap judul goresan pena. Yang membuatku sadar bahwa kesedihanmu lebih dalam dari yang aku perkirakan.

Waktu berselang dan cerita-ceritamupun berkurang. Aku menyimpan bukumu di tempat yang rapi, kadang sesekali kubaca ulang. Sampailah pada satu kisah, aku jatuh cinta dan patah hati dalam waktu yang bersamaan. Aku tak tahu kemana harus bercerita. Kuambil laptop yang tergeletak di meja. Menuliskan semua yang aku rasa. Dan aku tiba-tiba mengingatmu. Memahami sesuatu yang dulu tak kumengerti. Patah hati, bisa menyulap orang menjadi pujangga.

Jika Rindu

Jika rindu bisa bersemu
Ia mungkin akan memerah
Membuatmu tersipu
Malu

Jika rindu bisa berkata
Ia mungkin akan menjadi pencerita
Mengagungkan kisah-kisah
Yang menorehkan kisah kita

Jika rindu bisa mengalun
Ia mungkin akan menjadi sebuah lagu
Sendu
Yang bisa memanjakan telingamu

Jika rindu bisa ditanya
Siapa dia sebenernya
Ia mungkin akan menjawab
Rindu adalah
Aku sejarak kamu
Yang belum genap bertemu

Kepadamu Yang Akan Menjadi Teman Hidupku

Menuliskanmu mungkin tak akan ada habisnya
Apalagi jika kita nanti bersama
membangun bahtera
Dunia kita akan berlimpah cerita

Kamu adalah kumpulan do'a yang setiap hari kupanjatkan
Kini dihadirkan dalam bentuk nyata
Kamu adalah penggalan-penggalan impianku yang sempat kulupakan
Dan kini dihadiahkan oleh Sang Pencipta

Kita adalah orang baru
Orang yang saling tak tahu
Tapi ditakdirkan bertemu

Kamu dengan penilaianmu
Aku dengan keyakinan dari Tuhanku
Kita melangkah dalam satu tujuan baru

Dunia kita berbeda
Kamu membawaku pada dunia yang tak aku tahu sebelumnya
Ketika yang kutahu hanya langit kelabu
Kamu menunujukkan langit sewarna senja

Terima kasih tak terhingga
Berani menghadap orang tuaku
Terima kasih tak terkira
Memberi kesan yang baik pada pertemuan pertama kita
Terima kasih setulus hati
Perlahan-lahan mewujudkan impian
yang tak pernah kuceritakan pada siapapun sebelumnya

Sajak - Sajak Patah

Aku seperti sajak-sajak patah
Tak berurutan pada deretan suku kata
Bisa dieja
Tapi tak membentuk kalimat utama

Aku seperti sajak-sajak patah
Yang ingin berucap
Tapi tak mampu merangkum makna

Hanya padamu, tepian kata tak bisa kugenggam
Aku hanyut tenggelam dalam gelombang yang kamu buat
Ada rasa pada kata-kata
Ia terbata
Lalu bungkam

Begitulah aku
Seperti sajak patah
Ketika menatap matamu

Racun itu Bernama Rindu

Senja di Bali. Akhirnya aku menapakkan kakiku di sini lagi setelah setahun lalu. Tanah Lot adalah tempat terbaik versiku untuk menikmati sunset. Seleraku memang selera kebanyakan orang, tapi tak tahu kenapa aku ingin pergi ke sini lagi. Hahaha... aku menertawai diriku sendiri. Menikmati sunset adalah tameng yang kuciptakan untuk pergi ke sini. Buat apa jauh-jauh ke Bali hanya untuk menikmati sunset? Sunset bisa dinikmati dimanapun jika aku memang menyukainya. Karena sebenarnya aku datang ke sini untuk melepas rindu. Rindu yang tak mungkin aku katakan apalagi aku teriakkan.
Rindu ini sangat menyiksa. Rindu yang menyesakkan. Ragaku yang sehat, seolah-olah terkena asma karenanya. Rindu bisa menimbulkan efek luar biasa. Seperti saat ini, aku berusaha keras membendung air mata yang sejak tadi sudah ingin lepas dari pertahanannya. Rindu seseorang yang patah hati bagai menenggak racun yang siap menggiring mati. Dikatakan tak mungkin, disimpan sendiri menyiksa.
Entah berapa lama aku duduk di sini. Aku memandang kosong lautan yang menyuguhkan pemandangan megah, matahari yang kembali ke peraduannya. Sedangkan yang tergambar olehku adalah bayangan kita setahun lalu. Kita berdiri bersisian, memandang sunset kala itu.
Aku tertunduk dalam, menutup mata masih berusaha membendung air mataku. Setelah merasa tenang, aku kembali membuka mata. Aku menangkap bayangan seseorang yang berdiri di sampingku. Sepertinya aku mengenal sosok itu, tapi tidak mungkin.

"Wita..." Belum selesai aku bergulat dengan hatiku, aku menoleh ke sumber suara itu. Dan ternyata benar, itu kamu.

Alam sepertinya bersekongkol untuk membuat hatiku sesak berkali-kali lipat. Bagaimana mungkin di hari yang sama dengan tempat yang begini luas, kamu berdiri di sini bertemu denganku.
Mata kita beradu beberapa detik. Tak ada kata yang keluar. Kamu duduk di sebelahku diam. Wajahku pucat pasih. Aku memang rindu tapi tak berharap untuk bertemu. Situasi seperti ini adalah situasi yang sulit untukku.

"Apa kabar?" Tanyamu memecah keheningan.
"Seperti yang kamu lihat." Aku tak mungkin mengatakan aku baik-baik saja setelah melihatmu dalam keadaan seperti ini.

Ada jeda diantara kita. Hening yang begitu lama karena aku tak bertanya balik kepadamu. Hanya deru ombak yang terdengar mewakili perasaan kita masing-masing, mungkin.

"Terima kasih ya, Wit." Kamu memecah keheningan kembali.
"Untuk?" Aku memandang heran ke arahmu.
"Karena masih mau menyimpan rahasiaku walau kita sudah tidak lagi bersama. Terima kasih karena tidak menceritakannya kepada orang-orang. Hal itu sempat menghantuiku. Aku bersiap-siap menerima resiko jika hal itu sampai terjadi. Tapi hingga detik ini, semua baik-baik saja. Jadi, terima kasih untuk kebaikanmu."
Aku tertegun mendengar pernyataanmu.
"Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Seharusnya kamu sudah tau bahwa aku orang yang bisa menjaga rahasia." Semakin lama nada bicara semakin tak terdengar. Sial, kenapa aku seolah memaksa dia untuk memahamiku. Sudah bukan waktunya.
"Rahasiamu sepenuhnya hakmu. Aku tak punya andil untuk berbagi pada siapapun. Kamu tak perlu khawatir tentang itu." Aku memperbaiki sikap dan nada bicaraku.
Kamu menyunggingkan senyum. Senyum yang dulu selalu menentramkan hati, tapi lain hal sekarang. Raut mukamu memancarkan kelegaan.
"Aku harus pergi. Besok aku akan kembali dengan penerbangan pertama." Aku bergegas memungut sandal yang tergeletak disampingku berlalu tanpa minta persetujuanmu.
"Sampai ketemu lagi Wit." Katamu lirih yang masih bisa terdengar olehku.
Aku tak menyahuti.

Sebaiknya kita tak bertemu untuk waktu yang lama. Aku sudah cukup paham kenapa kita dipertemukan sekarang. Awalnya aku bahagia karena aku tahu kita sama-sama saling memikirkan. Tapi kenyataannya adalah kamu memikirkanku hanya karena kamu takut rahasia yang kuketahui seluk beluknya dengan gampangnya kuceritakan kepada orang banyak. Sedangkan aku memikirkanmu karena perasaan ini masih ada. Kita memang dari dulu tak pernah sejalan.
Aku sudah tak kuasa menahan bendungan air mata. Aku tak perlu takut orang sekitar melihatku karena malam telah tiba. Tak ada yang bisa melihat wajahku dalam gelap. 

Janjimu dan Gulungan Pita Kaset

Kebanyakan orang mungkin akan menganggapku kurang kerjaan karena masih mau menunggu. Menunggu kesungguhan kata-katamu yang pernah kamu ucapkan kala itu. Aku sendiri tak tahu apakah kata-katamu hanya bualan semata atau pesan tersirat yang tertangkap indera pendengaranku.

Kebanyakan orang mungkin akan menganggapku tidak waras karena memercayaimu. Memercayai kata-kata yang pernah keluar dari mulutmu. Aku tak tahu apakah itu caramu untuk memeriahkan suasana atau sebuah keinginan yang terucap sungguh-sungguh.

Kebanyakan orang mungkin akan menertawakanku karena berharap padamu. Berharap pada janji-janji yang kamu buat. Aku tak tahu apakah janji-janji itu semata hanya untuk menyenangkan hatiku atau memang caramu untuk mewujudkan mimpiku.

Dari waktu ke waktu, kata-katamu seperti gulungan pita kaset yang dimainkan pada sebuah tape. Ia mengalun syahdu, memanjakan telingaku, menenangkan perasaanku. Tapi sebuah kaset tape sudah usang dimakan jaman. Ia tertinggal jauh dengan mp3 dan teknologi canggih lainnya. Hampir tak ada tape recoder terpasang di setiap rumah pada jaman sekarang. Seperti itukah semua ucapan yang kamu lontarkan dulu? 

Aku mulai ragu.

Rahasia Kecil Dibalik Perjalanan

Aku seorang petualang. Mengembara ke berbagai tempat, tanpa tujuan. Kukunjungi banyak daerah. Mulai dari bentangan samudra dengan debur ombaknya, gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi, hingga kios para pedagang dengan sejuta cindera matanya.

Aku seorang petualang. Menapaki setiap jengkal jalan tanpa pemandu ataupun petunjuk. Aku sering tersesat, menghampiri tempat-tempat yang bahkan tak pernah terbesit dalam bayangan. Takjub dengan pengelihatan sendiri.

Aku seorang petualang. Kutemui banyak wajah. Mulai dari pesona seorang kepala suku sampai bulir lelah pencari nafkah. Selalu ada yang bisa kunikmati dari berbagai ekspresi. Aku selalu merekamnya dalam memori.

Aku seorang petualang. Banyak hal yang bisa kuceritakan. Tentang perjalananku, tentang asal mula petualanganku, tentang kisahku dengannya yang berakhir dengan tanda tanya.

Aku seorang petualang. Yang bisa saja tinggal, bukan sekedar singgah. Tapi dia tak pernah menyuruhku berhenti. Aku tahu diri.