Kata lepas
Dari lidah sang Tuan
Ia tak punya andil atas tembakan pelurunya
Kata lepas
Bak tempias
Menyeruak
Dan membekas
Kata lepas
Menyisakan dua rasa
Asa
Atau amarah
Ku harap
Kata lepas
Mengisi bejana-bejana yang tepat
Kata lepas
Dari lidah sang Tuan
Ia tak punya andil atas tembakan pelurunya
Kata lepas
Bak tempias
Menyeruak
Dan membekas
Kata lepas
Menyisakan dua rasa
Asa
Atau amarah
Ku harap
Kata lepas
Mengisi bejana-bejana yang tepat
Saat dulu kita sering berjumpa, percakapan ratusan menit sudah menjadi hal biasa. Hingar bingar tawa, lantang menggema menghiasi kisah kita yang entah dimulai dari mana.
Darimu aku sedikit banyak belajar, arti dari menerima. Kita bukanlah manusia tanpa celah. Selalu ada yang menjadi topik perdebatan kita. Aku dengan prinsipku, kamu dengan pola pikirmu. Tak jarang kita berada di kutub berbeda.
Hai, Kau...
Tuhan memang tak suka kita berandai-andai. Tapi jika boleh kupinta satu hal padaNya, aku ingin memelukmu kadangkala. Dimana kata-kata dan keberadaan adalah senjataku saat kita masih bersama. Jarak merubah segalanya. Aku yang hanya bisa memanggilmu sebatas tarian jemari, tak bisa lagi mendengar dengan leluasa isi hati.
Hai, Kau...
Aku menyadari, hidup itu dinamis. Kalau kamu ingin menangis, silahkan ambil jatah isak tangis. Karena aku tau, salah satu hal melegakan yang bisa dilakukan sendirian adalah menangis.
Aku ingin membangun sebuah rumah untukmu. Tak terlalu besar, tapi kuharap kamu nyaman singgah di dalamnya. Tak terlalu mewah, tapi kuharap rumah ini yang pertama kamu ingat ketika kamu merasa lelah.
Aku ingin menyediakanmu sebuah tempat, dimana kamu bebas bercerita apa saja. Apa saja. Termasuk khayalan tak masuk akalmu atau beban yang kamu pikir tak ada orang yang tau rasanya jadi sepertimu.
Kamu tak perlu takut bercerita ini itu karena aku hanya akan menjawab jika kamu tanya saja. Kamu tak perlu takut aku akan berpikir macam-macam, karena aku sudah mengosongkan segala prasangka dari otakku.
Jika kebanyakan orang ingin menceritakan dirinya, aku siap jadi pendengarnya. Berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, selama kamu mau.
Aku tau, tiada lebih berharga ketika sebuah cerita benar-benar didengar, bukan dinilai dan dikomentari. Aku tau, perasaan lega ketika semua kosakata yang menghimpit dada perlahan-lahan dikeluarkan. Aku tau, perasaan kecewa ketika sebuah cerita terabaikan karena segenggam ponsel.
